Terpukau Pelabuhan Pototano Dan Menyusuri Jalan Sepi Di Sumbawa Yang Mempesona



Pagi yang indah saat baru saja gw tiba di pelabuhan pototano menggunakan mobil sayur yang berhasil gw tumpangi di jalanan sumbawa besar, gw pun langsung jatuh cinta akan keindahannya, yang awal keberangkatan dari banyuwangi sampe sumbawa pada malam hari otomatis yang gw lihat hanyalah lampu-lampu pada disko dan gagal melihat keindahan pelabuhan pototano di sumbawa. Fyi. Pelabuhan pototano ini adalah salah satu pintu gerbang utama pelabuhan pas lo mau nginjekin kaki di pulau sumbawa jika lo tempuh dari pulau lombok dan menjadikan pelabuhan pototano sebagai pelabuhan yang paling indah yang pernah gw liat, serius.


Bukit-bukit gersang dengan pohon yang tumbuh saling berjauhan dan gugusan pulau-pulau kecil menyita perhatian gw. Rasa sesalpun ada ketika meninggalkan pulau sumbawa dimana gw enggak bisa berlama-lama di pulau ini. gw hanya numpang lewat dan tidur dari masjid ke masjid saat berada di pulau sumbawa karena memang tujuan gw hanyalah labuan bajo.


Jalan yang nampak sepi membentang sejauh 383km yang berhasil sukses gw lewati dengan cara menumpang dari truck ke pickup, pickup ke truck dari pelabuhan pototano hingga kota bima selepasnya menuju pelabuhan sape dari kota bima gw pun makai transpotasi umum yaitu bus kecil. Perjalanan gw terhenti di sumbawa besar karena memang jam menunjukan 01.00 dini hari waktu dimana kuntilanak pada berkeliyaran gw pun berlindung diri sebuah masjid yang berada kampung di dekat terminal sumbawa besar. Esok harinya gw pun melakukan aksi bajing loncat alias hitchikking kembali di pinggir jalan sumbawa besar tak lama kemudian sebuah truck yang berjalan pelan membawa sejumlah barang menjadi target utama dan berhasil sukses gw tumpangi, namun jarak yang gw tempuh bersama truck pun tag jauh karena memang tujuan truck dengan gw pun berbeda.
Akhirnya gw pun turun secara mengenaskan berjalan sendirian menyusuri jalanan sumbawa yang masih sepi saat pagi hari dan pemandangan pun enggak bikin gw bosen. Sumbawa yang awalnya gw kira menakutkan saat ini pun membuat gw jatuh hati. Perjalanan menyusuri daratan sumbawa masih panjang dimana gw harus menempuh perjalanan 290km lagi dari sumbawa besar menuju pelabuhan sape sumbawa paling ujung timur sendiri dan bisa lo bayangin aja perjalan hampir sama dengan banyuwangi – surabaya, jauh abis.
Sejumlah truk besar lewat tanpa permisi dan mencoba gw berhentikan dengan menunjukan jempol “sip” namun tag satu pun berhasil dan akhirnya ada satu mobil pickup pembawa koran yang berhasil berhenti di pinggir jalan tepat gw berdiri.

“Pak, mohon maaf saya masih ganteng gk pak” ucap gw dari balik jendela mobil

sih bapak diem aja, lalu gw pun berkata lagi "bapak mau kemana?"

“Oh saya mau ke Bima, kenapa?” ucap si supir

 “Boleh saya numpang pak, kebetulan saya mau ke pelabuhan sape” ucap gw sambil kedipin mata .

“Oh iya, silakan masuk dek, kebetulan saya sendirian, bisa puas kita di dalam mobil” goda sih bapak.

Akhirnya perjalanan sejauh 249km gw libas sama 1 kendaraan doang tanpa ada tindakan yang tak lazim, orangnya baik sangat dan tidak sombong. muaaaaach untuk si bapak, terimakasih pak


Perjalanan panjang menyusuri jalan sejauh 249km di mulai pada pukul 06.00 pagi, saat dimana suasana masih adem dan sinar semburat mentari pagi muncul di balik bukit dan landscape tanah sumbawa pun turut menamani perjalanan dan nampak sejumlah rumah panggung khas sumbawa berjejer setelah itu ladang di padu perbukitan. Maka enggak heran sumbawa ini sangat sepi, sangking sepinya kecepatan mobil yang gw tumpangi ini melaju begitu cepat dan klakson mobil tag berhenti-hentinya untuk di bunyikan guna jika ada hewan yang berkeliaran terdengar lalu enggak berani nyebrang? tutur si bapak.

“Bang, sapi disini berkumpul yah dan dilepas begitu saja” tutur gw saat tadi gw melihat gerombolan sapi berjalan di pinggir jalan.

“Oh iya, sapi disini di lepas berkeliaran begitu saja dan setiap orang kadang punya 40 ekoran atau lebih” ucap si bapak

“Lah, aman disini bang, apa enggak ada maling atau rampok kan sepi” tutur gw

“sumbawa disini mas, memang sepi tapi terkenal aman beda dengan pulau lombok yang masih rawan maling dan rampok dan kalaupun jika ada rampok/maling yang kena tangkap di sini mereka harus mati disini juga”

*Gw pun hening seketika, padahal niat gw mau ngerampok si bapak-bapak supir ini tapi enggak jadi* Ya udah lanjut cerita .

Jalan sumbawa ini super mulus dan lebar serta perbukitannya yang tak pernah lepas membentang mulai dari pelabuhan pototano hingga pelabuhan sape membuat gw  celingak-celinguk melihat kanan-kiri dari balik jendala mobil, pulau sumbawa menyihir gw dengan keindahan apalagi di saat berada di wilayah dompu. Wilayah yang dekat sama gunung tambora jalan berliku dan di samping kiri jurang di samping kanan tebing dan nampak juga gunung tambora dari kejauhan membuat gw teringat sejarah yang pernah gw baca gunung tambora meletus pada tahun 1815 yang merubah segalanya, letusan Tambora berdampak terhadap perubahan iklim global lantaran sulfur dioksida yang turut lepas ke lapisan stratosfer. Musim semi tahun 1815 menjadi terganggu karena debu-debu dan kandungan yang dibawa tertiup angin bergeser ke langit Eropa, Amerika, dan lainnya.
Dan jumlah kematian langsung di wilayah sekitar Tambora maupun tidak langsung sebagai dampak luas di seluruh dunia mencapai 71.000 jiwa.
Dan menjadikan sejarah letusan terhebat sepanjang sejarah modern. 

gunung kerakatau mah enggak ada apa-apanya bahkan sampai 10xlipat dari letusan gunung krakatau pada ratusan tahun yang lalu.
Kini, kaldera yang terbentuk di gunung Tambora merupakan kaldera aktif terbesar di dunia. Daerah di sekitar lereng Tambora pun turut menjadi pusat penelitian arkeologi terkait tertimbunnya tiga kerajaan sekaligus.
Gunung tambora menyita perhatian gw termasuk dengan sejarahnya namun sampai saat ini tambora masih dalam angan-angan dan segera gw wujudin, tapi entahlah. Mungkin tahun ini.

jalananan sepi sumbawa 
view perjalanan memasuki kota bima

Setelah 5 jam lebih menempuh perjalanan dari sumbawa besar menuju kota bima, gw tiba pada pukul 11.30 siang. saat dimana gw harus istirahat sejenak di warung pinggir jalan untuk minum segelas kopi tentu saja makan dan mencari tahu informasi cara menuju pelabuhan sape. Akhirnya setelah 1 jaman lebih gw berada di warung gw melanjutkan perjalanan kembali menuju pelabuhan sape yang harus menggunakan bus kecil seharga Rp.30.000, perjalanan masih 43km lagi menuju titik terakhir dari sebuah perjalanan selepasnya gw menuju labuan bajo. Kurang lebih 2 jaman gw sampai di pelabuahan sape, pelabuhan yang menghubungkan antara 2 pulau lainnya yakni pelabuhan sumba dan pelabuhan labuan bajo.

pelabuhan sape, sumbawa.

Cerita pun bersambung di pelabuhan sape. yaudah gitu aja sih, terus gimana lagi? oh iya Fyi, buat kamu-kamu yang mau lintas sumbawa menuju flores tapi ogah ngeluarin duit banyak dan di jamin punya cerita yang manarik gw saranin numpang aja, karena apa? karena, menumpang kendaraan di sumbawa menuju palabuhan sape itu gampang, gampang abis. karena banyak kendaraan yang bertujuan ke palabuhan sape atau pun kota bima jangan khawatir sumbawa aman, sumbawa baik hati, lots of good people on the streets, percayalah? 







3 comments:

Powered by Blogger.